السلام عليكم و رحمة الله و بركا ته
بسم الله الرحمن الرحيم
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِ
amma ba'du
ibuku Seorang Pembohong ? Sukar untuk
orang lain percaya, tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang
pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu
membohongi saya.
Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil.
Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.
PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga..
Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut.
Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak.
Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya.
Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “”Makanlah nak ibu tak lapar.”-
PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah.
Ibu
berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit
makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan
segar yang mengundang selera.
Sewaktu saya memakan ikan itu,
ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.Saya sedih
melihat ibu seperti itu.
Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang.
Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur..
Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya.
Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk.
Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.”
Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di
akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti
biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut
menyemangati.
Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai
menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja
tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Alloh agar saya
lulus ujian dengan cemerlang.
Ketika lonceng berbunyi menandakan
ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan
kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya.
Kopi yang
kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh
lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera
memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum.
Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!”
PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah
kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua.
Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak
lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela
pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi
keperluan hidupnya.
Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota
besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu,
pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut.
Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KE ENAM.
Setelah
lulus kuliah, saya bekerja di Yogyakarta. Kebutuhan saya di sana
dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan tempat saya kerja. saya
bekerja dengan cemerlang,
Dengan gaji yang agak lumayan, saya
berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya
diyogyakarta. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk
kami.
Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah
kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan
pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya.
Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di daerah lain.”-
PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Beberapa
tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu
diserang penyakit komplikasi jantung, paru dan lainnya, yang sakitnya
telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin.
Saya
yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk
menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah
sakit, setelah menjalani perawatan.
Ibu yang kelihatan agak tua,
menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya
sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang
menjalari setiap inci tubuhnya.
Saya dapat melihat dengan jelas
betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga
ibu menjadi terlalu lemah dan kurus..
Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata.
Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya.
Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakitsekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini.
Tetapi ibu tetaptersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.”
Setelah mengucapkan pembohongan yang ketujuh itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali.
Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya.
Anda beruntung karena masih mempunyai seorang ibu…
Anda boleh memeluk dan menciumnya.
Kalau
ibu anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan
berkata, “Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah.” Tapi tidak saya lakukan,
hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun
saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah
sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah
saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu…….
Demikian, wa Allâh a‘lam.
و صلى الله على سيد نا محمد و علي آاله و صحبه و سلم
و با الله التو فيق لأحسن طر يق
ولسلام عليكم و رحمة الله و بركا ته
oleh : Muhammad Kasum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar